Menggalakkan Budaya Literasi di SMK Negeri 9 Surakarta

Lewat Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015, sekolah kini diwajibkan menggalakkan budaya literasi. Lebih spesifiknya mewajibkan warga sekolah membaca selama 1 jam tiap minggu. Khususnya siswa kelas X.
Gerakan Literasi Sekolah merupakan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite Sekolah, orang tua/wali murid peserta didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakat yang dapat merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.), dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kegiatan literasi merupakan salah satu aktivitas penting dalam kehidupan. Sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Budaya literasi yang tertanan dengan baik akan memengaruhi keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan pendidikan dan mencapai keberhasilan dalam kehidupan bermasyarakat.
Budaya lierasi atau budaya membaca yang akan dilaksanakan di SMK Negeri 9 Surakarta, akan diujicobakan pada tingkat X. Penjadwalan sementara dialokasikan waktu 1 jam pelajaran yang akan didampingi oleh wali kelas masing-masing.
Kegiatan ini bertujuan untuk membiasakan pada para siswa untuk gemar membaca. Memahami isi bacaan dengan cara meringkas. Menyampaikan isi secara lisan.
Manfaat dari kegiatan literasi ini sangat banyak. Antara lain, para siswa bisa bertambah pengetahuannya, menulis ringkasan , menyampaikan secara lisan. Ada 3 keterampilan berbahasa yang bisa mereka dapatkan. Keterampilan membaca, menulis, dan berbicara. Dengan menguasai tiga keterampilan tersebut, harapannya para siswa semakin berkualitas dalam bidang keilmuan.
Satu jam pelajaran difokuskan pada kegiatan membaca. Setelah membaca, siswa diharapkan membuat ringkasan. Kegiatan ini tidak hanya sekedar membaca saja, tapi harapannya ada nilai tambah bagi siswa itu sendiri. Selain pengetahuan, mereka juga bisa mengasah keterampilan menulis. Berangkat dari kebiasaan membaca yang terprogram, harapannya mereka jadi terbiasa.
Hasil dari kegiatan membaca ini, akan dipilih dua yang terbaik, dari segi isi, tulisan dan kebermanfaatan dari buku yang dibacanya. Siswa yang terpilih, yang mendapat nilai paling tinggi, akan mendapatkan “Reward”. Dengan adanya reward, para siswa akan lebih termotivasi untuk membaca.
Untuk sementara ini, penyediaan buku diserahkan pada siswa, atau bisa meminjam buku di perpustakaan sekolah. Kerja sama dengan perpustakaan diharapkan bisa memperlancar kegiatan budaya literasi ini.Ke depan diharapkan adanya perpustakaan mini di masing-masing jurusan.